Strategi Bakti BCA Hantarkan Desa Wisata Tebara Raih Penghargaan ASEAN

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:24:53 WIB
Strategi Bakti BCA Hantarkan Desa Wisata Tebara Raih Penghargaan ASEAN

JAKARTA - Keberhasilan pengembangan sektor pariwisata berbasis komunitas kembali menorehkan prestasi di kancah internasional. Kali ini, Desa Wisata Kampung Prai Ijing (Tebara) yang berlokasi di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), sukses mencatatkan namanya dalam daftar pemenang ASEAN Sustainable Tourism Award. Penghargaan bergengsi ini diserahkan dalam perhelatan ASEAN Tourism Awards (ATA) 2026 yang berlangsung di Cebu, Filipina.

Pencapaian ini bukan sekadar seremoni, melainkan bukti nyata dari efektivitas program pemberdayaan yang dilakukan melalui inisiatif Desa Bakti BCA. Fokus pada pengembangan usaha komunitas dan UMKM yang berkelanjutan terbukti mampu menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang tangguh di wilayah Sumba Barat.

Sinergi Tenun Sumba dan Pariwisata Berkelanjutan

Keunikan budaya menjadi nilai tawar utama yang membawa Desa Wisata Kampung Prai Ijing Tebara unggul di tingkat regional. Salah satu elemen yang paling menonjol adalah kerajinan kain tenun Sumba yang memiliki nilai filosofis dan estetika tinggi. Hal ini diakui sebagai salah satu faktor penentu dalam kategori produk pedesaan yang berkelanjutan.

VP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengungkapkan rasa bangganya atas dedikasi masyarakat desa. Beliau menyatakan, "Kami bangga Desa Wisata Kampung Prai Ijing Tebara berhasil menyabet gelar ASEAN Tourism Sustainable Awards - Rural Product berkat keunikan kain tenun Sumba. Pencapaian ini menunjukkan potensi besar desa wisata Indonesia sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan yang unggul."

Kutipan tersebut menegaskan bahwa kekayaan lokal jika dikelola dengan pendampingan yang tepat, dapat bertransformasi menjadi aset pariwisata kelas dunia yang diakui oleh negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

Komitmen Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa

Keberhasilan di Cebu menjadi indikator kuat bahwa desa-desa wisata di Indonesia menyimpan potensi ekonomi yang sangat masif. BCA melalui pilar CSR-nya, Bakti BCA, memposisikan diri sebagai mitra strategis bagi komunitas lokal dalam mengelola potensi tersebut agar tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan yang layak.

Hera F. Haryn menambahkan bahwa pihaknya akan terus konsisten dalam jalur pemberdayaan ini. "Melalui program UMKM dan Desa Bakti BCA, kami berkomitmen mendorong usaha komunitas dan UMKM untuk berkembang, sekaligus meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat setempat," ujarnya.

Langkah ini sejalan dengan visi besar menciptakan ekosistem ekonomi mikro yang mandiri. Dengan mengintegrasikan UMKM ke dalam rantai pasok pariwisata, masyarakat desa tidak lagi menjadi penonton di tanah sendiri, melainkan menjadi aktor utama yang merasakan dampak ekonomi secara langsung.

ASEAN Tourism Awards Sebagai Panggung Global

ASEAN Tourism Awards (ATA) bukan sekadar kompetisi tahunan. Ini adalah instrumen strategis yang dirancang untuk memberikan apresiasi bagi pelaku pariwisata di negara-negara anggota ASEAN. Penyelenggaraan ATA 2026 di Filipina merupakan bagian integral dari rangkaian ASEAN Tourism Forum (ATF).

Forum ini memiliki misi besar untuk mempromosikan seluruh wilayah Asia Tenggara sebagai destinasi tunggal yang kompetitif bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Dengan meraih penghargaan di ajang ini, Desa Wisata Kampung Prai Ijing Tebara kini berada dalam radar kunjungan turis internasional, yang tentunya menuntut standar pelayanan dan keberlanjutan yang lebih tinggi lagi.

Akselerasi Kapasitas Melalui Pendampingan Menyeluruh

Kesuksesan satu desa diharapkan mampu memicu efek domino bagi desa-desa lainnya. Hingga saat ini, program UMKM dan Desa Bakti BCA telah memberikan pendampingan intensif kepada 28 Desa Bakti BCA yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Pendampingan ini tidak bersifat instan, melainkan mencakup berbagai aspek fundamental pengembangan destinasi.

Dua pilar utama yang dijunjung dalam inisiatif ini adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan perluasan akses pasar. Tanpa SDM yang mumpuni, potensi alam dan budaya akan sulit dikelola secara profesional. Sebaliknya, tanpa akses pasar, produk dan jasa yang dihasilkan desa tidak akan sampai ke tangan konsumen secara optimal.

Bakti BCA mengimplementasikan berbagai program konkret untuk mencapai tujuan tersebut, di antaranya:

Penguatan atraksi wisata agar lebih menarik dan memiliki narasi yang kuat.

Peningkatan standar pengelolaan layanan bagi para pelancong.

Pembekalan literasi keuangan bagi pengelola desa dan pemilik UMKM.

Penyelenggaraan familiarization trip untuk mengenalkan desa kepada agen perjalanan dan media.

Pemberdayaan UMKM lokal agar produk mereka memiliki standar kualitas yang bersaing.

Melalui pendekatan holistik ini, diharapkan usaha komunitas dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan kontribusi nyata bagi pendapatan warga setempat.

Harapan untuk Masa Depan Pariwisata Indonesia

Pemerataan kualitas desa wisata menjadi agenda penting ke depan. Keberhasilan Desa Tebara menjadi standar baru (benchmark) bagi desa-desa lain di bawah naungan Bakti BCA maupun desa wisata lain secara umum di Indonesia. Transformasi desa menjadi destinasi berkualitas diharapkan dapat memperkuat citra pariwisata Indonesia di mata dunia.

Menutup keterangannya, Hera menyampaikan harapan besar bagi perkembangan desa wisata di tanah air. “Kami berharap kontribusi Desa Bakti BCA dapat mendorong desa-desa wisata lain di Indonesia dalam meraih potensi optimalnya dalam menyelenggarakan destinasi pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan seperti halnya yang diraih Desa Wisata Kampung Prai Ijing Tebara ini,” ucap Hera.

Dengan sinergi antara sektor swasta, pemerintah, dan komunitas lokal, pariwisata Indonesia diyakini akan semakin tangguh dan inklusif, membawa kesejahteraan dari akar rumput hingga ke level nasional.

Terkini