Strategi Perbankan dan Dukungan Pemerintah Terhadap Kredit Bank Tekstil

Selasa, 10 Februari 2026 | 08:35:43 WIB
Strategi Perbankan dan Dukungan Pemerintah Terhadap Kredit Bank Tekstil

JAKARTA - Dinamika penyaluran modal di sektor manufaktur tengah menjadi perhatian serius, terutama terkait sikap sektor perbankan terhadap industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Di tengah upaya menjaga stabilitas rasio kredit bermasalah, sejumlah lembaga perbankan terpantau masih menerapkan prinsip kehati-hatian yang tinggi atau bersifat selektif dalam mengucurkan pembiayaan ke sektor ini. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk mitigasi risiko guna menjaga kualitas aset dan portofolio kredit perbankan nasional agar tetap sehat.

Meski perbankan menunjukkan sikap waspada, pemerintah memiliki pandangan yang berbeda dan lebih optimis. Otoritas pusat terus memberikan dorongan agar arus modal ke industri TPT tetap mengalir. Hal ini didasari oleh keyakinan bahwa sektor tekstil bukanlah industri yang sedang meredup, melainkan sektor strategis yang memerlukan penyesuaian model bisnis agar tetap kompetitif di pasar global.

Menepis Narasi Penurunan Kinerja Industri Tekstil Nasional

Isu mengenai kemerosotan industri TPT menjadi topik hangat yang dibahas dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) pada Jumat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, secara tegas memberikan klarifikasi untuk menepis keraguan pasar. Dalam pandangannya, persepsi bahwa industri tekstil sedang mengalami penurunan kinerja dan pendapatan yang permanen adalah hal yang perlu diluruskan melalui data dan kebijakan yang tepat.

Bagi pemerintah, industri tekstil tetap memiliki prospek yang cerah asalkan mendapatkan sentuhan transformasi yang memadai. Penegasan ini sangat penting untuk memberikan sinyal positif kepada para pelaku jasa keuangan dan investor agar tidak menarik diri dari sektor ini. Dengan narasi yang kuat dari pemerintah, diharapkan perbankan dapat melihat celah peluang di tengah risiko yang ada, terutama pada perusahaan-perusahaan tekstil yang memiliki manajemen yang solid.

Program Restrukturisasi dan Modernisasi untuk Keberlanjutan Produksi

Sebagai langkah konkret untuk menghidupkan kembali gairah industri TPT, pemerintah telah menyiapkan peta jalan yang berfokus pada pembenahan internal. Program utama yang akan dijalankan adalah restrukturisasi di sektor tekstil. Tujuan dari langkah ini bukan sekadar memberikan bantuan finansial, melainkan untuk mendorong modernisasi infrastruktur produksi. Mesin-mesin lama yang kurang efisien harus segera digantikan dengan teknologi terkini agar operasional perusahaan tetap relevan dan produktif dalam menghadapi persaingan harga.

Pemerintah meyakini bahwa dengan teknologi yang lebih modern, biaya produksi dapat ditekan dan kualitas produk dapat ditingkatkan. Inilah yang menjadi alasan mengapa pemerintah terus mendorong perbankan untuk tidak menutup keran kredit. Jika proses modernisasi ini berhasil didanai, industri TPT Indonesia diprediksi akan mampu bangkit dan bersaing kembali dengan produk impor yang membanjiri pasar domestik.

Diversifikasi Sektor Manufaktur Melalui Elektronik dan Semikonduktor

Selain memberikan perhatian khusus pada tekstil, pemerintah juga sedang memperluas jangkauan strategi industri manufaktur Indonesia. Dalam kesempatan yang sama, Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa program strategis lainnya yang akan dilakukan adalah mendorong sektor elektronik dan semikonduktor. Langkah ini diambil sebagai bagian dari visi besar untuk meningkatkan daya saing industri manufaktur secara keseluruhan.

Sektor elektronik dan semikonduktor dipandang sebagai industri masa depan yang memiliki nilai tambah sangat tinggi. Dengan mengembangkan sektor ini secara paralel dengan restrukturisasi tekstil, pemerintah berupaya menciptakan ekosistem manufaktur yang beragam dan tangguh. Keberhasilan di sektor teknologi tinggi ini diharapkan dapat memberikan efek domino bagi pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus memperkuat struktur ekspor Indonesia di mata dunia.

Keseimbangan Antara Mitigasi Risiko Bank dan Target Pertumbuhan

Tantangan terbesar saat ini adalah mempertemukan kepentingan bank yang mengutamakan keamanan aset dengan target pemerintah yang mengejar pertumbuhan industri. Perbankan yang selektif merupakan hal yang wajar dalam manajemen risiko, namun selektivitas yang berlebihan dikhawatirkan dapat menghambat proses modernisasi yang sedang diupayakan pemerintah. Oleh karena itu, komunikasi yang intensif antara regulator dan pelaku industri keuangan menjadi sangat krusial.

Pemerintah melalui kementerian terkait berupaya meyakinkan perbankan bahwa risiko di industri TPT dapat diminimalisir melalui pendampingan dan kebijakan proteksi pasar yang tepat. Jika bank mampu mengidentifikasi emiten atau perusahaan tekstil yang benar-benar melakukan transformasi teknologi, maka penyaluran kredit tersebut justru akan menjadi investasi yang menguntungkan bagi bank dalam jangka panjang.

Optimisme Industri Manufaktur di Tahun 2026

Melihat berbagai kebijakan yang digulirkan, tahun 2026 diharapkan menjadi titik balik bagi penguatan industri manufaktur Indonesia. Fokus pemerintah pada restrukturisasi tekstil serta akselerasi di bidang elektronik memberikan harapan baru bagi para pelaku usaha. Meski perbankan masih berhati-hati, dukungan kebijakan yang konsisten dari pemerintah diharapkan mampu melunakkan sikap selektif tersebut secara bertahap.

Industri TPT bukan merupakan sunset industry. Dengan dukungan pendanaan yang tepat serta komitmen modernisasi dari para pemilik usaha, sektor ini tetap akan menjadi tulang punggung penyerap tenaga kerja dan kontributor devisa yang signifikan. Sinergi antara kebijakan pemerintah dan kepercayaan sektor perbankan akan menjadi kunci utama dalam memastikan manufaktur Indonesia tetap tegak berdiri di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Terkini