Tren Cosplay Karakter Korea dan Peluang Industri Kreatif di Indonesia

Kamis, 19 Februari 2026 | 09:58:34 WIB
Tren Cosplay Karakter Korea dan Peluang Industri Kreatif di Indonesia

JAKARTA - Dunia pop culture di Indonesia kini tengah menyaksikan pergeseran tren yang menarik. Jika sebelumnya panggung kostum didominasi oleh karakter-karakter asal Jepang, kini Kekayaan Intelektual (KI) atau Intellectual Property (IP) asal Korea Selatan mulai mengambil alih perhatian. Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan bukti nyata bagaimana narasi visual dari manhwa (komik Korea) dan animasi Negeri Ginseng telah berhasil menyentuh sisi emosional para penggemar di tanah air melalui seni cosplay (costume and play).

Budaya Korea telah berkembang pesat dan merambah ke berbagai bidang, salah satunya dengan hadirnya KI karakter Korea. Karakter manhwa dan animasi Korea menjadi bagian dari fenomena global yang tidak hanya dinikmati melalui layar, tetapi juga diwujudkan secara fisik melalui kostum dan akting. Guna membedah fenomena ini, sebuah diskusi mendalam bertajuk "Cosplay Korea dalam Perspektif Budaya Pop" telah diselenggarakan pada hari Rabu di Aula Multifungsi KCCI, Jakarta.

Dinamika Komunitas dan Perjalanan Cosplayer Indonesia ke Panggung Dunia

Korea Cultural Center Indonesia (KCCI) menjadi inisiator dalam mempertemukan para pelaku industri kreatif ini. Acara tersebut menghadirkan Rizky Octavianus, pendiri Machipot Cosplay Indonesia, serta Angel Rose Maria, seorang cosplayer sekaligus desainer kostum profesional. Keduanya berbagi pengalaman mengenai perkembangan komunitas cosplay di Indonesia, dinamika cosplay Korea, serta tantangan dalam dunia pembuatan kostum.

Rizky Octavianus membuka acara dengan memperkenalkan dirinya dan komunitas cosplay Machipot Cosplay Indonesia. Komunitas tersebut berdiri sejak tahun 2006 dari sebuah tim cosplay dan telah menjadi saksi sejarah pasang surutnya hobi ini di tanah air. Rizky sendiri bukan sosok baru; ia aktif sebagai cosplayer hingga tahun 2020 dan pernah menjadi pemenang favorit di ajang Gyeonggi International Cosplay Festival (GICOF) di Korea Selatan.

Pengalaman internasionalnya membawa dampak positif bagi ekosistem lokal. Setelah mengikuti kompetisi tersebut, ia dipercaya menjadi pihak pengelola babak penyisihan cosplayer Indonesia yang akan berangkat ke Korea setiap tahunnya. Ini menunjukkan bahwa cosplayer Indonesia memiliki standar kualitas yang diakui di level global.

Transformasi Cosplay dari Hobi Menjadi Karier Profesional

Di Indonesia, fenomena mengenakan kostum ini telah berevolusi. Secara garis besar, cosplay kini terbagi dalam tiga kategori, yakni cosplay untuk hiburan, kompetisi, serta karier. Angel Rose Maria adalah salah satu contoh nyata cosplayer yang berhasil mengubah gairah seninya menjadi karier yang menjanjikan melalui bisnis bernama Angel Rose Design.

Angel memulai cosplay sejak 2008 karena ketertarikannya pada anime dan K-pop. Tujuannya mendirikan Angel Rose Design adalah untuk memfasilitasi cosplayer yang ingin memiliki kostum yang lebih akurat dan detail. Seiring dengan melesatnya popularitas IP Korea, permintaan untuk kostum karakter dari semenanjung Korea pun meningkat pesat.

Beberapa karya kostum IP karakter Korea yang pernah dibuatnya meliputi karakter K/DA dari gim League of Legends, Igris dan Cha Hae-In dari manhwa Solo Leveling, hingga jaket ikonik G-Dragon yang dikenakan seorang model lokal saat G-Dragon menggelar konser di Indonesia. Berbagai kostum karakter Korea yang pernah didesain oleh Angel Rose Maria menunjukkan betapa luasnya cakupan pengaruh budaya Korea saat ini.

Tantangan Kreativitas dalam Mewujudkan Karakter Fiksi

Mewujudkan karakter dari gambar dua dimensi menjadi kostum tiga dimensi yang fungsional bukanlah perkara mudah. Angel mengungkapkan bahwa kostum tersulit yang pernah ia buat adalah kostum Igris dari Solo Leveling. Karakter ksatria berbaju zirah tersebut menuntut detail yang luar biasa tinggi. Pengerjaan kostum tersebut memakan waktu hingga satu tahun karena rumitnya detail dan kalkulasi bahan yang harus tetap nyaman saat dikenakan.

Sebaliknya, ia menjelaskan bahwa kostum paling mudah adalah seragam sekolah Korea atau kostum idola K-pop yang memiliki pola relatif sederhana. Perbedaan tingkat kesulitan ini mencerminkan keberagaman jenis IP Korea yang masuk ke Indonesia, mulai dari drama bertema sekolah hingga fantasi epik.

GICOF 2026: Pintu Gerbang Kreativitas Internasional

Wadah kompetisi internasional tetap menjadi target utama bagi para pegiat cosplay. Ajang seperti Gyeonggi International Cosplay Festival (GICOF) menjadi sangat penting bagi cosplayer seluruh dunia untuk mengekspresikan kreativitas mereka dan bertukar ide. Rizky pun mengutarakan bahwa GICOF tahun 2026 akan berlangsung pada tanggal 18–22 September mendatang. Kabar baiknya, Indonesia kembali berkesempatan mengirimkan perwakilannya untuk bertanding di Korea.

Sebagai informasi, GICOF merupakan salah satu rangkaian acara dari Bucheon International Comics Festival (BICOF) yang diadakan setiap bulan September di Korean Manhwa Museum, Bucheon, Korea. Keikutsertaan Indonesia secara konsisten dalam ajang ini membuktikan bahwa kreativitas anak bangsa mampu bersaing dalam menginterpretasikan IP milik Korea Selatan.

Terkini