Kementan Dorong Petani Manfaatkan Varietas Padi Unggul Hadapi Kemarau

Senin, 16 Maret 2026 | 14:53:45 WIB
Kementan Dorong Petani Manfaatkan Varietas Padi Unggul Hadapi Kemarau

JAKARTA - Menjelang musim kemarau yang diprediksi datang lebih awal pada 2026, Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong para petani untuk memanfaatkan varietas padi adaptif agar produksi tetap stabil. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menekankan pentingnya kesiapsiagaan petani melalui penggunaan varietas genjah dan tahan kekeringan, sambil memperkuat sistem peringatan dini di daerah rawan kekeringan.

“Petani perlu memanfaatkan varietas genjah dan tahan kekeringan, seperti Inpago 4–13, Inpari 38–46, Situbagendit, Situpatenggang, Padjadjaran, Cakrabuana, atau varietas sejenis lainnya agar produksi tetap terjaga meskipun menghadapi musim kemarau,” ujar Mentan dalam keterangan di Jakarta, Minggu.

Selain itu, pengelolaan air melalui irigasi, pompanisasi, dan perpipaan menjadi salah satu fokus untuk mendukung percepatan tanam di berbagai sentra produksi padi.

Prediksi Awal Kemarau di Berbagai Wilayah Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sejumlah wilayah akan mengalami awal musim kemarau lebih cepat. Wilayah-wilayah tersebut meliputi sebagian Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua.

“Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan pada lahan pertanian jika tidak diantisipasi sejak dini,” ungkap Mentan. Dengan pemetaan wilayah rawan kekeringan dan peringatan dini, petani diharapkan dapat menyesuaikan jadwal tanam serta varietas padi yang digunakan.

Varietas Unggul Tahan Kekeringan dari BRMP Kementan

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan, Fadjry Djufry, menjelaskan bahwa Kementan telah mengembangkan berbagai varietas padi unggul adaptif terhadap kondisi kekeringan. Varietas ini memiliki kemampuan untuk tetap produktif meski ketersediaan air terbatas dan umurnya relatif singkat.

“Varietas padi tahan cekaman kekeringan seperti Inpari 38 hingga Inpari 46, serta varietas padi gogo kelompok Inpago dirancang agar tetap mampu berproduksi pada kondisi ketersediaan air terbatas. Selain itu, varietas genjah seperti Padjadjaran dan Cakrabuana dapat dipanen lebih cepat sehingga membantu tanaman menghindari periode kekeringan,” jelas Fadjry.

Strategi Teknologi Pertanian untuk Ketahanan Pangan

Pemanfaatan varietas adaptif merupakan bagian dari strategi teknologi Kementan untuk memperkuat ketahanan sistem produksi padi di tengah dinamika iklim. Fadjry menekankan, penyebaran varietas unggul di wilayah rawan kekeringan dan sawah tadah hujan menjadi kunci agar produksi padi nasional tetap terjaga.

“Kami mendorong pemanfaatan varietas unggul tahan kekeringan ini secara lebih luas, sehingga ketahanan pangan dapat terus diperkuat,” tegasnya. Strategi ini juga mencakup penerapan teknologi budidaya yang tepat di tingkat petani, agar hasil panen tetap optimal meskipun menghadapi musim kemarau.

Pemanfaatan Inovasi Teknologi Pertanian

Melalui BRMP, Kementan terus memperkuat pemanfaatan inovasi teknologi untuk menghadapi perubahan iklim. Pengembangan varietas unggul adaptif dan penerapan teknologi budidaya yang sesuai menjadi fokus utama, termasuk integrasi sistem irigasi, pompanisasi, dan peringatan dini. Dengan pendekatan ini, diharapkan produksi padi nasional tetap stabil dan sektor pertanian lebih tangguh menghadapi cuaca ekstrem.

Dengan langkah-langkah tersebut, Kementan berharap para petani dapat menghadapi awal kemarau lebih percaya diri, meminimalkan risiko gagal panen, dan memastikan ketahanan pangan tetap terjaga bagi masyarakat.

Terkini