JAKARRTA - Di era digital yang semakin rentan terhadap pengintaian dan peretasan canggih, privasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendasar. Menanggapi ancaman spyware yang kian agresif, platform pesan instan terbesar di dunia kini menghadirkan lapisan pertahanan paling kokoh dalam sejarahnya. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan; kebutuhan akan ruang komunikasi yang benar-benar kedap dari gangguan pihak luar menjadi prioritas utama, terutama bagi mereka yang bergerak di garis depan informasi. Dengan pendekatan ala "benteng digital," fitur ini dirancang untuk memutus rantai serangan siber bahkan sebelum sempat menyentuh perangkat pengguna.
WhatsApp merilis fitur keamanan baru untuk melindungi pengguna dari ancaman serangan siber. Fitur baru bernama Strict Account Settings atau Pengaturan Akun Ketat ini akan digulirkan secara bertahap untuk semua pengguna WhatsApp dalam beberapa pekan ke depan. Inovasi ini menandai pergeseran strategi WhatsApp dalam menghadapi lanskap ancaman keamanan yang terus berevolusi pada tahun 2026.
Perlindungan Ekstra bagi Jurnalis dan Tokoh Publik
Fokus utama dari fitur ini adalah memberikan ketenangan bagi mereka yang profesinya seringkali menjadi sasaran empuk peretas. WhatsApp mengatakan fitur ini diperuntukkan kepada jurnalis atau tokoh publik yang mungkin membutuhkan perlindungan ekstra terhadap serangan siber yang makin canggih.
"Pengaturan akun ketat adalah fitur keamanan opsional bergaya lockdown yang, jika diaktifkan, akan mengurangi risiko Anda terhadap serangan siber dengan membatasi fungsionalitas," tulis WhatsApp dalam deskripsinya, seperti dikutip dari TechCrunch. Melalui sistem ini, keamanan akun akan ditingkatkan secara otomatis tanpa kompromi. "Akun Anda dikunci ke pengaturan yang lebih private, dan obrolan Anda dengan orang lain di luar akan memiliki batasan," sambung keterangan tersebut.
Mekanisme Pembatasan Akses dari Nomor Tidak Dikenal
Setelah fitur ini diaktifkan, sistem pertahanan WhatsApp akan bekerja secara proaktif dengan menutup celah komunikasi dari pihak luar. Pengguna WhatsApp akan memblokir media dan lampiran yang dikirim oleh orang tidak dikenal, dan membisukan panggilan dari nomor tidak dikenal secara otomatis. Hal ini dilakukan untuk mencegah masuknya berkas berbahaya yang disisipi virus atau perangkat perusak lainnya.
Selain itu, pengaturan ini juga akan mematikan preview tautan di chat untuk menghindari serangan berbasis phishing dan akan memblokir pesan dari akun tidak dikenal jika melewati volume tertentu. Inisiatif ini juga mencakup pengaktifan verifikasi dua langkah secara default, serta notifikasi keamanan yang memberi tahu pengguna di chat ketika kode keamanan kontak yang diajak bercakap-cakap berubah. Untuk mencegah masuknya akun asing ke ruang pribadi, pengguna juga hanya bisa ditambahkan ke grup oleh orang yang ada di kontak.
Penyamaran Identitas Digital dan Alamat IP
Privasi data pribadi menjadi komponen kunci dalam fitur ini. WhatsApp akan membatasi informasi seperti last seen, online, foto profil, info tentang, tautan profil, dan status sehingga hanya bisa dilihat oleh kontak yang terdaftar. Dengan demikian, pengguna menjadi hampir tidak terlihat oleh publik atau pihak-pihak yang mencoba melakukan pemetaan profil secara ilegal.
Lebih jauh lagi, keamanan teknis diperkuat dengan menyembunyikan identitas jaringan pengguna. Alamat IP pengguna juga bisa disamarkan dengan meneruskan panggilan telepon ke server WhatsApp, sehingga lokasi fisik pengguna tidak dapat dilacak oleh lawan bicara.
Aktivasi Terpusat pada Perangkat Utama
Bagi pengguna yang ingin meningkatkan keamanannya, proses aktivasi dapat dilakukan melalui menu aplikasi. Pengguna bisa mengaktifkan fitur ini dengan membuka WhatsApp lalu masuk ke Pengaturan > Privasi > Lanjutan > Pengaturan akun ketat. Pengguna WhatsApp dapat melihat fitur apa saja yang dibatasi di laman aktivasi fitur tersebut untuk memastikan mereka memahami perubahan fungsionalitas yang terjadi.
Namun, demi keamanan tingkat tinggi, Meta menekankan bahwa fitur keamanan paling ketat ini hanya bisa diaktifkan atau dinonaktifkan lewat perangkat utama yang terhubung dengan WhatsApp. Hal ini berarti pengaturan tersebut tidak bisa diakses lewat ponsel kedua, WhatsApp Web, atau WhatsApp Windows guna mencegah pengambilalihan kendali pengaturan keamanan dari perangkat yang disinkronkan.
Transisi ke Bahasa Pemrograman Rust demi Melawan Spyware
Selain fitur yang bisa dilihat langsung oleh pengguna, WhatsApp juga melakukan perombakan besar di sektor infrastruktur teknis. WhatsApp mengumumkan transisi ke bahasa pemrograman Rust untuk melindungi foto, video, dan pesan pengguna dari ancaman spyware. Penggunaan bahasa pemrograman ini dinilai lebih aman dalam manajemen memori, sehingga meminimalisir celah keamanan yang bisa dimanfaatkan oleh perangkat peretas pihak ketiga.
Perubahan ini terjadi di belakang layar, jadi pengguna tidak perlu mengaktifkan fitur apapun untuk merasakan manfaat dari penguatan sistem ini. Dengan kombinasi fitur "lockdown" dan pembaruan arsitektur pemrograman, WhatsApp berupaya membuktikan komitmennya dalam menjaga integritas data pengguna di tengah tantangan keamanan global yang kian berat.