JAKARTA - Keberhasilan sebuah institusi perbankan dalam melewati periode ekonomi yang dinamis sering kali ditentukan oleh kemampuannya beradaptasi tanpa kehilangan fokus pada sektor produktif. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) membuktikan hal tersebut dengan menutup tahun buku 2025 lewat capaian yang melampaui ekspektasi banyak pihak. Di tengah fluktuasi pasar yang cukup menantang, bank pelat merah ini justru berhasil memperkuat fundamentalnya dan mencatatkan pertumbuhan kredit konsolidasi yang mencapai angka 15,9% secara tahunan.
Angka pertumbuhan ini bukan sekadar statistik, melainkan manifestasi dari peran BNI sebagai akselerator utama dalam pembangunan nasional. Dengan fokus yang tajam pada penguatan organisasi dan produktivitas, BNI menunjukkan bahwa ketahanan model bisnis adalah kunci utama untuk tetap tumbuh di atas rata-rata industri saat menghadapi tekanan eksternal yang kompleks.
Optimalisasi Dana Murah sebagai Mesin Efisiensi Biaya
Salah satu faktor pembeda yang membuat performa BNI begitu mengesankan pada tahun 2025 adalah keberhasilannya dalam merombak struktur pendanaan. BNI secara konsisten memperkuat porsi dana murah atau Current Account and Savings Account (CASA). Hasilnya terlihat pada pertumbuhan CASA yang mencapai 28,9%. Kenaikan ini ditopang oleh pertumbuhan luar biasa pada rekening giro sebesar 43,8% YoY dan tabungan yang meningkat 11,2%.
Struktur pendanaan yang didominasi dana murah ini memberikan keuntungan strategis bagi perseroan. Dengan CASA yang melimpah, BNI mampu menopang efisiensi biaya dana (cost of fund) sehingga tetap kompetitif dalam menyalurkan kredit meskipun kebijakan moneter global tengah mengalami penyesuaian. Hal ini memastikan pengelolaan likuiditas perusahaan berada pada level yang sangat optimal untuk mendukung ekspansi bisnis di masa depan.
Menghadapi Volatilitas Global dengan Disiplin Risiko
Tahun 2025 bukanlah tahun yang tanpa hambatan. Perbankan nasional harus berhadapan dengan volatilitas pasar global serta pergeseran suku bunga yang cukup signifikan. Namun, strategi yang diterapkan oleh manajemen BNI terbukti efektif dalam memitigasi risiko-risiko tersebut sambil tetap mengejar pertumbuhan di sektor-sektor yang memberikan kontribusi nyata bagi ekonomi.
Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menyatakan bahwa capaian ini merupakan bukti dari ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan. Strategi ini memungkinkan bank untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga meningkatkan nilai tambah bagi para pemegang kepentingan (stakeholders).
“Sepanjang 2025 kami menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga. Namun BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif,” ujar Putrama. Pernyataan ini menegaskan bahwa kehati-hatian dalam manajemen risiko adalah fondasi utama dari setiap langkah ekspansi yang diambil perusahaan.
Transformasi Organisasi dan Peningkatan Produktivitas SDM
Lebih jauh lagi, keberhasilan BNI pada tahun 2025 tidak hanya bersumber dari pengelolaan angka-angka di neraca, tetapi juga dari transformasi internal yang menyentuh akar organisasi. BNI memandang bahwa teknologi hanyalah salah satu instrumen, sementara penggerak utamanya adalah kualitas sumber daya manusia (SDM).
Putrama menambahkan bahwa transformasi BNI tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga mencakup penguatan organisasi dan peningkatan produktivitas SDM. Dengan SDM yang lebih produktif dan lincah (agile), perseroan mampu merespons kebutuhan nasabah dengan lebih cepat dan akurat. Integrasi antara sistem digital yang mutakhir dengan tenaga kerja yang kompeten menciptakan sinergi yang mendorong efisiensi operasional secara menyeluruh.
Fokus Strategis pada Sektor Produktif Nasional
Langkah BNI yang agresif dalam menyalurkan kredit ke sektor-sektor produktif di tahun 2025 sejalan dengan visi besar pemerintah dalam memperkuat fundamental ekonomi nasional. Sektor pengolahan, infrastruktur strategis, dan UMKM yang memiliki daya tahan tinggi menjadi sasaran utama penyaluran dana. Hal ini tidak hanya menguntungkan bank dari sisi pendapatan bunga, tetapi juga menciptakan efek domino bagi terciptanya lapangan kerja dan stabilitas ekonomi daerah.
Melalui disiplin risiko yang ketat, BNI memastikan bahwa setiap rupiah yang dikreditkan memiliki kualitas aset yang terjaga. Pendekatan ini terbukti berhasil mempertahankan rasio kredit bermasalah dalam batas yang sangat aman, sehingga kepercayaan pasar terhadap bank tetap terjaga tinggi hingga penutupan tahun buku.
Proyeksi Menuju Masa Depan Perbankan yang Berkelanjutan
Dengan capaian gemilang di akhir 2025, BNI kini memiliki pijakan yang sangat kuat untuk melangkah ke periode berikutnya. Keseimbangan antara pertumbuhan kredit sebesar 15,9% dan kenaikan dana murah sebesar 28,9% adalah formula ideal yang jarang terjadi di tengah situasi ekonomi yang dinamis.
Harapannya, keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi sektor perbankan lain untuk terus berinovasi dalam mengelola struktur modal dan pendanaan. BNI telah membuktikan bahwa dengan kepemimpinan yang bervisi tajam dan komitmen pada transformasi berkelanjutan, tantangan ekonomi seberat apa pun dapat diubah menjadi peluang pertumbuhan yang solid.