BATERAI LISTRIK

Diversifikasi Teknologi Baterai EV: Nikel dan LFP Bakal Sama-Sama Kuat di Pasar Global

Diversifikasi Teknologi Baterai EV: Nikel dan LFP Bakal Sama-Sama Kuat di Pasar Global

JAKARTA - Perkembangan pasar kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global saat ini tengah menjadi sorotan utama para pelaku industri energi, termasuk di Indonesia. PT Huayou Indonesia menyampaikan sudut pandang yang menarik tentang bagaimana industri baterai EV diperkirakan akan bergerak dalam beberapa tahun mendatang. Alih-alih melihat satu teknologi baterai akan mendominasi dan menggantikan yang lain, Huayou menegaskan bahwa dua arsitektur baterai utama — nikel mangan kobalt (NMC) dan lithium ferro phosphate (LFP) — akan saling berdampingan dalam ekosistem global. Pernyataan ini mengangkat diskusi penting mengenai keragaman teknologi baterai dan strategi adaptasi dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berubah.

Prospek Pasar Baterai EV: NMC dan LFP Sama-Sama Menarik

Menurut Director of Public Affairs Huayou Indonesia, Stevanus, tren pasar baterai kendaraan listrik tidak akan fokus pada satu jenis teknologi saja, melainkan akan terbagi ke dalam beberapa segmen yang berkembang berdasarkan kebutuhan pasar. Dalam pernyataannya kepada awak media di kawasan Jakarta Selatan, Stevanus menegaskan bahwa perkembangan baterai berbasis NMC dan LFP akan terus melaju pesat, baik di kancah global maupun domestik, karena masing-masing memiliki keunggulan dan kekhasannya sendiri.

Hal ini berbeda dengan anggapan umum bahwa salah satu teknologi baterai akan sepenuhnya menggantikan yang lain. Menurut Stevanus, kedua tipe baterai tersebut “memiliki segmen pasarnya masing-masing,” sehingga perlu dipahami sebagai pilihan teknologi yang saling melengkapi, bukan sebagai kompetitor tunggal yang saling menyingkirkan di masa depan.

Pemahaman Mendalam Tentang NMC dan LFP

Untuk memahami konteks tersebut, penting melihat keunggulan masing-masing teknologi baterai. Baterai berbasis nikel mangan kobalt (NMC) dikenal memiliki densitas energi yang lebih tinggi, sehingga cocok untuk kendaraan listrik dengan kebutuhan jarak tempuh lebih jauh dan performa tinggi. Sementara itu, baterai lithium ferro phosphate (LFP) dikenal lebih stabil, aman, dan cenderung lebih ekonomis untuk produksi dalam jumlah besar, terutama untuk segmen EV yang lebih terjangkau tanpa mengorbankan keselamatan baterai.

Stevanus memperkirakan bahwa tidak hanya NMC dan LFP yang akan berkembang, tetapi juga teknologi baterai lainnya seperti baterai berbasis sodium-ion (SiB) yang diprediksi akan turut berkembang secara bertahap dan menemukan ceruk pasarnya sendiri. Menurutnya, “baterai NMC tidak akan kehilangan daya saingnya, begitu pula baterai LFP yang tidak akan mendominasi seluruh spektrum pasar EV.”

Menepis Kekhawatiran Akan Satu Teknologi Pengganti

Pernyataan Huayou Indonesia ini datang di tengah kekhawatiran sejumlah pihak bahwa salah satu jenis baterai EV bisa mengalahkan yang lain dalam persaingan teknologi. Kekhawatiran tersebut biasanya muncul karena tren adopsi teknologi baru yang cepat dalam sektor otomotif dan energi, di mana inovasi ternyata berjalan sangat dinamis.

Namun, Stevanus mengingatkan bahwa dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan — dan perlu dipahami bahwa “beberapa tahun” ini bukan sekadar satu sampai dua tahun — pasar baterai EV akan tetap beragam. “Jadi kita tidak usah takut ini akan tergantikan. Kalau dalam waktu at least beberapa tahun ke depan, beberapa tahun jangan diartikan 1—2 tahun. Itu bakal, pasti bakal ada pasar,” ujarnya.

Dengan demikian, pernyataan ini seolah menjadi penyeimbang terhadap narasi yang terlalu fokus pada dominasi satu teknologi semata. Anggapan bahwa LFP akan menggeser NMC, atau sebaliknya, tidak sepenuhnya mencerminkan realitas pasar yang sebenarnya lebih kompleks dan beragam.

Implikasi terhadap Industri Kendaraan Listrik dan Kebijakan

Pendekatan yang melihat kedua teknologi baterai tersebut sebagai peluang bersama — bukan ancaman satu sama lain — memberikan implikasi penting bagi pembuat kebijakan, produsen kendaraan listrik, hingga investor. Pasar yang lebih heterogen berarti bahwa strategi investasi dan pengembangan teknologi harus mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan kebutuhan konsumen yang berbeda-beda di berbagai wilayah dunia.

Diversifikasi teknologi dapat menjadi strategi untuk memperkuat posisi industri lokal dalam ekosistem global. Indonesia, misalnya, yang kaya akan sumber daya nikel, secara tradisional memiliki keuntungan dalam produksi battery cells berbasis nikel. Namun, dengan makin meningkatnya permintaan untuk baterai berbasis LFP di pasar tertentu, terutama di segmen kendaraan listrik yang lebih terjangkau, ada peluang untuk memperluas basis produksi dan inovasi teknologi yang lebih luas lagi.

Dengan kondisi pasar yang diprediksi akan terus berubah dan teknologi yang terus berkembang, peran produsen baterai dan mereka yang terlibat dalam rantai pasok global menjadi sangat penting. Menurut pandangan Huayou Indonesia, adanya keberagaman teknologi baterai ini justru dapat menciptakan lebih banyak pilihan bagi produsen dan konsumen, serta mendorong inovasi berkelanjutan di sektor energi terbarukan.

Pasar EV Global Akan Tetap Beragam

Pandangan Huayou Indonesia tentang masa depan baterai EV memperlihatkan bahwa pasar teknologi baterai tidak bisa dipandang monolitik. Baik baterai NMC maupun LFP memiliki peran penting yang masing-masing akan terus bertahan dalam periode mendatang. Dengan memahami kekuatan dan keunggulan masing-masing, pelaku industri dan pembuat kebijakan dapat merumuskan strategi yang lebih adaptif dan inklusif. Kesimpulannya, bukan soal satu teknologi yang akan menang, tetapi bagaimana kedua teknologi ini dapat saling berdampingan untuk memperkaya pilihan di pasar kendaraan listrik global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index