Dokter

Bisnis Kemanusiaan: Relawan TCK Kemenkes Tangani Kesehatan Anak Aceh Tengah

Bisnis Kemanusiaan: Relawan TCK Kemenkes Tangani Kesehatan Anak Aceh Tengah
Bisnis Kemanusiaan: Relawan TCK Kemenkes Tangani Kesehatan Anak Aceh Tengah

JAKARTA - Pemulihan pascabencana bukan sekadar tentang membangun kembali infrastruktur yang hancur, melainkan juga memastikan keberlangsungan hidup generasi penerus yang berada di wilayah terdampak. Menyadari krusialnya perlindungan terhadap kelompok rentan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bergerak cepat dengan mengirimkan tenaga ahli ke titik-titik tersulit. Relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Batch 4 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menurunkan tim dokter spesialis anak untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi anak-anak di wilayah terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tengah.

Langkah ini menjadi manifestasi dari komitmen negara dalam memberikan jaminan kesehatan yang merata, bahkan hingga ke pelosok yang aksesnya terputus oleh bencana. Kehadiran dokter spesialis di lapangan memberikan harapan baru bagi para orang tua yang mengkhawatirkan kondisi buah hati mereka di tengah keterbatasan fasilitas medis selama masa darurat. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemulihan kesehatan pascabencana, khususnya bagi kelompok rentan yang paling merasakan dampak dari perubahan lingkungan dan ketersediaan logistik.

Perjuangan Menembus Medan Berat Desa Serule di Kecamatan Bintang

Distribusi layanan kesehatan pascabencana di Aceh Tengah menghadapi tantangan geografis yang tidak ringan. Berdasarkan unggahan video yang dibagikan melalui akun Instagram resmi @kemenkes_ri pada Sabtu, 7 Februari 2026, tim relawan telah menjangkau sejumlah wilayah dengan akses yang cukup sulit. Perjalanan menuju lokasi terdampak seringkali harus melalui jalur yang rusak akibat bencana, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat tim medis.

Salah satu titik yang menjadi fokus utama adalah Desa Serule, sebuah wilayah yang secara geografis cukup terisolasi. Dokter Spesialis Anak, dr. Sulasmi, mengatakan pelayanan kesehatan diberikan langsung kepada anak-anak yang mengalami keluhan kesehatan pascabencana. Ia menceritakan betapa menantangnya rute yang harus ditempuh demi menemui para pasien kecil tersebut. “Kemarin kami sudah turun ke Kecamatan Bintang, yaitu di Desa Serule yang sangat jauh dari Kota Takengon dengan medan yang cukup berat. Di sana kami melakukan pelayanan kesehatan bagi anak-anak yang sakit,” ujar dr. Sulasmi, dikutip dari unggahan tersebut.

Identifikasi Penyakit Dominan: ISPA Hingga Gangguan Kulit

Kondisi sanitasi yang menurun dan paparan cuaca yang tidak menentu selama masa bencana menjadi pemicu utama munculnya berbagai gangguan kesehatan pada anak-anak. Dari hasil pemeriksaan, tim relawan menemukan sejumlah penyakit yang dominan dialami anak-anak. Data lapangan ini sangat penting untuk menentukan langkah intervensi obat-obatan dan edukasi kesehatan yang tepat sasaran bagi masyarakat desa.

Masalah pernapasan menjadi keluhan yang paling banyak dilaporkan oleh para orang tua kepada tim medis di lapangan. Keluhan yang banyak dijumpai antara lain infeksi saluran pernapasan, gangguan kulit seperti dermatitis, serta kasus gizi kurang yang muncul selama masa bencana. Lingkungan yang lembap dan paparan debu di lokasi bencana memperburuk kondisi kesehatan fisik anak-anak yang pada dasarnya memiliki sistem imun yang lebih sensitif dibandingkan orang dewasa.

Krisis Gizi Kurang di Tengah Masa Pemulihan Bencana

Selain penyakit infeksi, ancaman malnutrisi menjadi perhatian serius bagi relawan TCK Batch 4. Keterbatasan akses terhadap pangan bergizi selama masa darurat menyebabkan beberapa anak mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan status gizi. “Rata-rata yang kami jumpai, sakit yang paling dominan adalah radang pernapasan, kemudian ada sakit kulit, dan beberapa yang memang mengalami gizi kurang selama bencana terjadi,” lanjut dr. Sulasmi menjelaskan kondisi di lapangan.

Penemuan kasus gizi kurang ini menuntut adanya koordinasi lintas sektor, tidak hanya layanan pengobatan tetapi juga dukungan asupan makanan tambahan bagi anak-anak di daerah terpencil. Pemulihan kesehatan di Aceh Tengah kini harus mencakup manajemen gizi yang intensif agar dampak jangka panjang dari bencana ini tidak mengganggu tumbuh kembang anak-anak di masa depan.

Sinergi Tenaga Cadangan Kesehatan dalam Menjaga Ketahanan Nasional

Kehadiran relawan TCK Kemenkes Batch 4 membuktikan bahwa sistem ketahanan kesehatan Indonesia kini lebih responsif dan terorganisir. Melalui mobilisasi dokter spesialis secara langsung ke lokasi bencana, birokrasi layanan kesehatan menjadi lebih ringkas dan efektif. Pelayanan "jemput bola" ini menjadi kunci utama keberhasilan penanganan kesehatan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat kota seperti Takengon.

Keberlanjutan aksi ini diharapkan dapat mempercepat masa transisi dari situasi darurat menuju fase pemulihan total. Masyarakat Aceh Tengah, khususnya di Kecamatan Bintang, kini mendapatkan pendampingan medis profesional yang diharapkan mampu menekan angka kesakitan (morbiditas) pascabencana. Kerja keras para relawan spesialis anak ini menjadi bukti bahwa negara hadir untuk melindungi setiap nyawa, terlepas dari seberapa berat medan yang harus dilalui.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index