JAKARTA - Era baru pengelolaan aset negara telah dimulai dengan ambisi besar untuk mengeliminasi inefisiensi yang selama ini membebani langkah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) secara resmi mengumumkan peta jalan restrukturisasi yang akan mengubah wajah korporasi pelat merah secara fundamental. Targetnya sangat tajam: memangkas jumlah entitas dari 1.043 anak hingga cucu usaha menjadi hanya sekitar 300 entitas pada tahun ini.
Langkah berani ini bukan sekadar perampingan administratif, melainkan sebuah misi untuk menciptakan struktur perusahaan yang lebih ramping, gesit, dan kompetitif. Dengan membuang beban birokrasi yang berlebihan di tingkat bawah, Danantara ingin memastikan bahwa setiap rupiah investasi negara dapat menghasilkan nilai tambah yang optimal bagi perekonomian nasional.
Komitmen Restrukturisasi Menyeluruh di Seluruh Sektor
Dalam sebuah pernyataan yang cukup mengguncang pasar, COO BPI Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa tidak akan ada satu pun sektor yang terlewat dari proses audit dan perombakan ini. Fokus utama Danantara adalah menyelaraskan bisnis-bisnis yang selama ini tersebar secara sporadis ke dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
"Semua BUMN akan menghadapi perombakan," tegas Dony dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 yang digelar di Hotel Kempinski, Jakarta, sebagaimana dikutip pada Rabu. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa Danantara tengah menjalankan mandat untuk melakukan pembersihan besar-besaran terhadap praktik-praktik bisnis yang tidak produktif di lingkungan BUMN.
Integrasi Logistik Berbasis Kekuatan Jaringan PT Pos
Sektor logistik menjadi salah satu prioritas utama dalam agenda merger Danantara. Strategi yang diambil adalah dengan menetapkan PT Pos Indonesia (Persero) sebagai anchor company atau perusahaan jangkar. Keputusan ini didasari pada kekuatan jaringan fisik PT Pos yang telah menjangkau pelosok negeri melalui ribuan titik layanannya.
"Karena mereka memiliki distribution outlet yang banyak, kurang lebih 4 ribu outlet yang dimiliki oleh PT Pos. Mereka akan menjadi anchor dari penggabungan 21 perusahaan logistik kita," ujar Dony. Dengan langkah ini, diharapkan biaya logistik nasional dapat ditekan secara signifikan melalui optimalisasi aset yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.
Pemulihan Finansial dan Konsolidasi Sektor Konstruksi
Bagi sektor karya atau konstruksi, Danantara menerapkan pendekatan yang lebih bertahap. Sebelum melakukan penggabungan, fokus utama tahun ini adalah memastikan kesehatan keuangan masing-masing perusahaan benar-benar pulih. Tahun 2026 diproyeksikan menjadi tahun transisi krusial bagi perusahaan-perusahaan pembangunan ini untuk bersatu.
"Kita tahun ini selesai melakukan proses perbaikan secara finansial, tahun 2025, tahun 2026 mereka memasuki fase merger dan konsolidasi. Kita harapkan akan selesai juga di pertengahan tahun ini," katanya. Langkah ini bertujuan agar entitas baru yang terbentuk nantinya memiliki neraca keuangan yang kuat dan tidak membawa beban utang masa lalu yang dapat menghambat proyek strategis nasional.
Penyederhanaan Ekosistem Asuransi dan Manajemen Aset
Sektor keuangan, khususnya asuransi, mengalami pemangkasan yang paling drastis. Dari 15 perusahaan asuransi BUMN yang ada saat ini, Danantara hanya akan menyisakan tiga entitas utama yang terbagi berdasarkan fungsi spesifik. Transformasi ini juga menyasar sektor pengelolaan aset yang akan disentralisasi dalam satu wadah tunggal.
Nantinya, tiga entitas asuransi tersebut akan fokus pada bidang asuransi jiwa (life insurance), asuransi umum (general insurance), dan asuransi kredit. "Kemudian juga kita tadi asset management kita akan punya hanya 1 asset management," kata Dony. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir tumpang tindih pasar dan memperkuat kapasitas modal perusahaan dalam menghadapi risiko industri.
Modernisasi Telkom: Memotong Inefisiensi di Level Terbawah
Sorotan tajam juga diarahkan pada PT Telkom Indonesia Tbk. Sebagai raksasa telekomunikasi, Telkom dinilai memiliki terlalu banyak anak usaha yang justru memicu inefisiensi biaya operasional. Danantara berencana memangkas 66 anak perusahaan Telkom hingga hanya tersisa belasan entitas saja.
"Nanti dari 66 perusahaan telkom itu hanya akan tinggal kurang lebih belasan perusahaan saja. nantinya akan semua yang dari bawah akan tergabung ke atas. Nah ini akan memotong banyak inefisiensi yang terjadi selama ini," ujarnya. Melalui restrukturisasi ini, manajemen Telkom diharapkan bisa lebih fokus pada pengembangan teknologi inti dan perluasan layanan infrastruktur digital masa depan.
Ketahanan Pangan dan Perampingan Sektor Semen
Perubahan radikal tidak berhenti di sektor jasa; sektor industri seperti pupuk dan semen juga masuk dalam radar perombakan. PT Pupuk Indonesia (Persero) yang saat ini membawahi 47 anak usaha akan mengalami konsolidasi besar-besaran guna mendukung ketahanan pangan nasional secara lebih efektif. Sementara itu, di sektor semen, Danantara mengambil langkah tegas dengan menutup sebanyak 17 anak perusahaan yang dinilai tidak produktif atau membebani induk usaha.
"Kita sedang menyelesaikan seluruh problematika daripada pengelolaan BUMN ini sehingga ke depan BUMN menjadi perusahaan yang betul-betul termasuk tidak hanya dari bisnisnya," kata Dony. Visi besarnya adalah menciptakan ekosistem industri yang tidak hanya besar secara ukuran, tetapi juga sehat secara finansial dan operasional.
Menuju Standar Korporasi Berkelas Dunia
Restrukturisasi masif di bawah Danantara ini merupakan langkah krusial untuk menjadikan BUMN sebagai pemain global yang disegani. Dengan memangkas ratusan entitas yang tidak relevan, Danantara berupaya mengembalikan fokus BUMN pada bidang-bidang strategis yang memberikan manfaat maksimal bagi publik dan negara.
Dony Oskaria menegaskan bahwa seluruh proses ini dilakukan untuk menyelesaikan problematika klasik dalam pengelolaan aset negara. Transformasi ini diharapkan menjadi fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan, di mana BUMN tidak lagi dipandang sebagai entitas yang boros biaya, melainkan sebagai mesin pertumbuhan yang efisien, transparan, dan akuntabel.