JAKARTA - Setiap menjelang Ramadan dan Idul Fitri, lonjakan harga bahan kebutuhan pokok kembali menjadi sorotan.
Permintaan yang meningkat pada komoditas volatile food hampir selalu memicu tekanan inflasi pangan. Masalah distribusi yang belum sepenuhnya tuntas turut memperburuk situasi, sehingga stabilitas harga menjadi tantangan tahunan bagi pemerintah dan pelaku usaha.
Pekerja logistik menilai, intervensi jangka pendek seperti operasi pasar atau koordinasi antar-pemerintah daerah memang dapat meredam gejolak sesaat.
Namun, akar masalah tetap berada pada struktur rantai pasok yang belum efisien dan terintegrasi. Tanpa pembenahan mendasar, pola lonjakan harga berisiko terus berulang setiap musim.
Koordinasi Pusat dan Daerah Sebagai Langkah Jangka Pendek
Ketua Dewan Pembina DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) sekaligus Senior Vice President FIATA, Yukki Nugrahawan Hanafi, menekankan pentingnya pendekatan struktural. Menurut dia, stabilisasi harga pangan musiman membutuhkan strategi yang lebih mendalam, bukan sekadar operasi pasar.
“Penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah merupakan langkah penting yang sudah dilakukan sebagai bagian intervensi jangka pendek dalam meredam volatilitas harga bahan pokok,” ujar Yukki.
Langkah ini memberikan dampak langsung terhadap gejolak harga, tetapi tidak menyelesaikan masalah mendasar. Koordinasi jangka pendek hanya membantu mencegah lonjakan ekstrim sesaat, sementara kendala dalam distribusi dan ketersediaan barang tetap menjadi faktor risiko.
Dampak Volatilitas Pangan terhadap Ekonomi dan Usaha
Secara makro, harga yang stabil memberi kepastian bagi pelaku usaha dan menjaga daya beli masyarakat. Namun di lapangan, volatilitas kerap muncul akibat disrupsi arus perdagangan, ketimpangan pasokan antarwilayah, kemacetan transportasi dan pelabuhan, serta minimnya keterbukaan data rantai pasok.
Pengendalian inflasi pangan tidak bisa dilepaskan dari kinerja logistik, efisiensi pelabuhan, dan tata kelola perdagangan. Tanpa pembenahan menyeluruh, lonjakan harga setiap musim tertentu hampir tak terelakkan. Biaya logistik yang tinggi dan kurangnya koordinasi antarpelaku rantai pasok menyebabkan fluktuasi harga berulang setiap hari besar keagamaan.
Tiga Agenda Reformasi ALFI untuk Stabilitas Harga
Untuk mengatasi tantangan ini, ALFI mengusulkan tiga agenda reformasi utama. Pertama, memperkuat konektivitas domestik dan efisiensi pelabuhan agar distribusi antarpulau lebih cepat, terukur, dan dapat diandalkan. Infrastruktur yang baik memungkinkan arus barang lancar, mengurangi keterlambatan distribusi yang biasanya memicu kenaikan harga di wilayah tertentu.
Kedua, integrasi data produksi, stok, distribusi, dan harga secara real time menjadi kunci untuk mencegah kelangkaan dan spekulasi. Dengan data yang akurat dan transparan, pemerintah dan pelaku usaha dapat merespons perubahan pasar lebih cepat dan tepat.
Ketiga, memperjelas koordinasi kebijakan antara pemerintah dan pelaku usaha logistik, termasuk operator pelabuhan dan distributor. Kolaborasi yang terstruktur membantu merespons permintaan mendadak serta memastikan harga tetap stabil tanpa menimbulkan distorsi pasar.
Kepentingan Reformasi Struktural untuk Negara Kepulauan
Indonesia sebagai negara kepulauan sangat bergantung pada distribusi laut. Ketergantungan ini membuat kelemahan logistik cepat berdampak pada harga pangan. Jika reformasi struktural tidak diterapkan, stabilitas harga bahan pokok berpotensi tetap rapuh, terutama ketika permintaan meningkat pada periode hari besar keagamaan.
Selain itu, reformasi rantai pasok menjadi penting tidak hanya untuk meredam inflasi musiman, tetapi juga untuk memastikan keberlanjutan pasokan pangan di seluruh wilayah. Ketersediaan barang, efisiensi distribusi, dan keterbukaan data menjadi fondasi agar harga pangan tetap stabil sepanjang tahun.
Dengan tiga kunci utama ini konektivitas, integrasi data, dan koordinasi kebijakan diharapkan inflasi pangan dapat ditekan lebih efektif. Strategi ini juga memberi kepastian usaha, menjaga daya beli masyarakat, dan menciptakan pasar pangan yang lebih sehat serta transparan.