JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membuka tahun 2026 dengan kinerja keuangan yang kuat, ditandai dengan pencapaian laba bersih pada Januari 2026 yang berada di sekitar angka Rp5 triliun, menunjukkan pertumbuhan positif dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan Laba yang Tangguh di Awal Tahun
BBCA mencatat laba bersih mencapai Rp5 triliun pada bulan Januari 2026, atau naik sekitar 5,8% secara tahunan, mencerminkan momentum awal tahun yang solid.
Pendapatan bunga bersih sedikit menurun sekitar 1% secara tahunan, sejalan dengan turunnya margin bunga bersih ke level 5,7%, yang mencerminkan normalisasi margin secara bertahap di masa suku bunga tinggi dan kenaikan beban bunga.
Biaya kredit berhasil ditekan signifikan karena pencadangan turun tajam hampir 54% secara tahunan sehingga credit cost berada di level rendah sekitar 0,3%. Selain itu, pre-provision operating profit (PPOP) BBCA menunjukkan peningkatan kuat sekitar 20% secara bulanan.
Kredit dan Likuiditas: Tren Musiman dan Prospek
Penyaluran kredit pada Januari 2026 menunjukkan kontraksi sekitar 1,3% secara bulanan, yang sejalan dengan pola musiman di kuartal pertama tahun ini. Namun secara tahunan, kredit BBCA masih tumbuh sekitar 6,3%.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Jeffrosenberg Chenlim, memperkirakan pertumbuhan kredit BBCA akan meningkat sepanjang tahun, dengan proyeksi di kisaran 8% hingga 10% pada tahun 2026. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan kredit diperkirakan tetap solid meskipun ada tekanan musiman di awal tahun.
Likuiditas bank dinilai tetap memadai, ditandai dengan rasio loan to deposit ratio (LDR) yang turun ke sekitar 77,4% dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) mencapai 9,4% secara tahunan, yang didukung oleh kenaikan giro nasabah sebesar 19,5% secara tahunan.
Kualitas Aset Terjaga dan Manajemen Risiko
Dengan portofolio yang prudent serta sikap hati-hati terhadap segmen kredit konsumer, BBCA diperkirakan mampu menjaga kualitas aset dengan rasio kredit bermasalah atau NPL yang terkendali.
Masih menurut Jeffrosenberg, konservatisme tersebut membantu BBCA menjaga posisi fundamentalnya di tengah ketidakpastian pasar dan potensi risiko kualitas kredit di segmen tertentu.
Rekomendasi Analis dan Valuasi Saham
Berdasarkan proyeksi pertumbuhan kredit dan prospek likuiditas, Jeffrosenberg mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA. Target harga yang disarankan analis itu adalah sekitar Rp10.650 per saham, dengan basis valuasi price to book value (P/BV) sekitar 4,2 kali estimasi tahun buku 2026.
Menurut analis tersebut, BBCA memiliki awal tahun yang solid dengan margin yang tetap tangguh serta biaya kredit rendah, yang memperkuat kepercayaan terhadap daya tahan laba perusahaan.
Meskipun demikian, diingatkan bahwa terdapat sejumlah risiko utama yang perlu diwaspadai, seperti kemungkinan penurunan kualitas aset konsumer dan kenaikan beban operasional yang lebih tinggi dari perkiraan awal.
Prospek Laba dan Valuasi ke Depan
Profitabilitas BBCA di awal tahun terlihat kuat, tercermin dari return on average equity (ROAE) yang tetap tangguh. Namun, valuasi forward P/BV BBCA pada saat ini masih berada di bawah rata-rata historisnya, yang memberikan potensi revaluasi ke atas jika kinerja terus konsisten.
Jeffrosenberg memperkirakan bahwa pertumbuhan laba BBCA akan kembali ke level single digit tinggi pada tahun 2026, didukung oleh margin yang stabil, biaya kredit rendah di kisaran 0,4% sampai 0,5%, serta likuiditas yang kuat.
Dalam pandangan analis, prospek tersebut mendukung keberlanjutan premi valuasi BBCA dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya di sektor perbankan.
Secara keseluruhan, kinerja BBCA di awal tahun ini menunjukkan daya tahan yang kuat di tengah kondisi pasar yang menantang, sekaligus membentuk dasar untuk pertumbuhan yang berkelanjutan sepanjang tahun.