PERBANKAN

Perbankan Tetap Andalkan Industri Pengolahan dan Perdagangan Untuk Dorong Kredit

Perbankan Tetap Andalkan Industri Pengolahan dan Perdagangan Untuk Dorong Kredit

Di tengah dinamika ekonomi global dan domestik, sektor perbankan Indonesia tetap menempatkan industri pengolahan dan perdagangan sebagai pilar utama penyaluran kredit pada 2026. Fokus ini bukan semata soal angka, tetapi mencerminkan strategi yang dibangun dari kondisi permintaan yang kuat, prospek subsektor yang potensial, serta momentum musiman yang dinilai masih berpihak pada aktivitas ekonomi riil.

Permintaan Kredit yang Teguh dari Dua Sektor Kunci

Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) terbaru menunjukkan bahwa kredit baru pada triwulan IV 2025 tumbuh signifikan di sejumlah sektor utama, termasuk Industri Pengolahan dan Perdagangan Besar dan Eceran. Data BI mencatat penyaluran kredit ke sektor industri pengolahan meningkat 18,9% secara tahunan menjadi Rp 400,6 triliun pada Desember 2025, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.

Hal ini menjadi landasan bagi perbankan untuk terus menyalurkan kredit ke sektor tersebut di 2026, terutama ketika BI memperkirakan bahwa permintaan kredit pada triwulan I 2026 tetap dominan mengalir ke sektor industri pengolahan dan perdagangan.

Kinerja Sub-Sektor Manufaktur Menarik Bagi Bank

Menurut Ekonom Global Markets Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, fokus perbankan pada dua sektor itu tidak terlepas dari perbaikan kinerja ekonomi, khususnya sektor manufaktur. Beberapa subsektor manufaktur yang dipandang memiliki prospek menarik antara lain:

Industri besi dan baja

Industri makanan dan minuman

Industri farmasi

“Kami melihat beberapa subsektor manufaktur yang perkembangannya cukup menarik… Ini yang membuat perbankan masih agresif menyalurkan kredit ke sektor-sektor tersebut,” ujar Myrdal kepada Kontan.

Faktor Musiman Perdagangan dan Peran Ramadan–Lebaran

Tidak hanya soal permintaan korporasi, faktor musiman juga berperan dalam mendorong pertumbuhan kredit di sektor perdagangan. Myrdal menilai aktivitas ekonomi biasanya meningkat menjelang akhir tahun dan berlanjut ke kuartal pertama tahun berikutnya seiring dengan momentum Ramadan dan Lebaran. Kondisi ini memberikan dorongan sementara yang jelas bagi kebutuhan kredit perdagangan.

“Kredit perdagangan cenderung meningkat,” jelasnya menjelaskan pengaruh musim terhadap kenaikan permintaan pembiayaan di sektor ini.

Permintaan Korporasi Masih Utama, Ritel Tertahan

Dari sisi permintaan, Myrdal juga menyoroti bahwa kebutuhan kredit dari segmen korporasi masih cukup kuat, dengan banyak perusahaan yang mengajukan kredit untuk kebutuhan ekspansi dan investasi, bukan hanya untuk modal kerja.

Namun demikian, penyaluran kredit ke sektor ritel/perorangan masih relatif terbatas. Hal ini menunjukkan kehati-hatian baik dari sisi bank maupun masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi. “Kalau ke depan ekonomi membaik, permintaan kredit tentu akan ikut meningkat,” tambah Myrdal.

Bank Perhatikan Risiko dan Kualitas Kredit

Beberapa bank mengonfirmasi bahwa tren pertumbuhan kredit ke sektor perdagangan dan industri pengolahan tetap terjaga. Direktur OK Bank, Efdinal Alamsyah, mengatakan bahwa realisasi kredit di kedua sektor itu menunjukkan tren positif, dengan porsi sekitar 25% dari total portofolio kredit perbankan.

Menurut Efdinal, sektor tersebut juga punya keterkaitan kuat dengan layanan transaksi perbankan seperti trade finance, cash management, dan supply chain financing, yang turut mendukung kontribusi pendapatan bank berbasis komisi.

Sementara itu, Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, menekankan penerapan prinsip kehati-hatian melalui proses underwriting selektif dan pemantauan risiko disiplin, sehingga kualitas kredit tetap terjaga. Strategi bank di 2026 termasuk memperkuat hubungan dengan nasabah eksisting, pembiayaan berbasis rantai pasok, dan optimalisasi produk transaksi dan pembiayaan perdagangan.

Kesimpulan: Strategi Perbankan di 2026 Berakar pada Realitas Riil

Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan berada di kisaran moderat, perbankan tetap melihat peluang nyata di sektor industri pengolahan dan perdagangan. Kekuatan permintaan, prospek subsektor yang positif, serta momentum musiman menjadikan kedua sektor itu fokus strategi kredit. Bank-bank pun terus mengedepankan kualitas penyaluran dengan pendekatan risiko yang hati-hati, sambil memperluas layanan transaksi yang terkait dengan aktivitas ekonomi riil.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index