Finansial

Fondasi Masa Depan: Membangun Karakter Finansial Melalui JA SparktheDream

Fondasi Masa Depan: Membangun Karakter Finansial Melalui JA SparktheDream
Fondasi Masa Depan: Membangun Karakter Finansial Melalui JA SparktheDream

JAKARTA - Di tengah gempuran inovasi layanan keuangan digital yang kian masif, membekali generasi muda dengan pengetahuan finansial bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Menyadari hal tersebut, FWD Insurance kembali menggandeng Prestasi Junior Indonesia (PJI) untuk menyelenggarakan program JA SparktheDream. Inisiatif ini hadir dengan konsep yang lebih luas, melampaui batas kaku ruang kelas, dengan menciptakan sebuah ekosistem pembelajaran yang terintegrasi. Dengan menghubungkan peran aktif sekolah, pendampingan keluarga, dan keahlian para pelaku industri, program ini berupaya memastikan bahwa pemahaman keuangan tertanam kuat sebagai karakter dan kebiasaan sehari-hari bagi anak-anak Indonesia.

Pentingnya intervensi pendidikan keuangan sejak usia dini ini didasari oleh realitas bahwa keputusan finansial yang bijak di masa dewasa berakar dari kebiasaan yang dipupuk sejak kecil. FWD Insurance dan PJI memandang bahwa literasi keuangan yang efektif tidak cukup hanya diajarkan sebagai teori, namun harus dipraktikkan dalam lingkungan yang mendukung. Melalui kolaborasi ini, diharapkan generasi muda tidak hanya melek angka, tetapi juga memiliki ketahanan dan kecerdasan dalam menavigasi ekosistem keuangan yang kian kompleks.

Sinergi Sekolah dan Rumah sebagai Laboratorium Finansial

Rudy F. Manik, selaku Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance, memberikan penekanan khusus pada peran rumah dan sekolah sebagai laboratorium pertama bagi anak dalam mengenal nilai uang. Dalam keterangannya pada Selasa, Rudy menjelaskan bahwa literasi keuangan yang dimulai dari praktik nyata akan menjadi modal berharga bagi masa depan. “Kami percaya literasi keuangan yang dipraktikkan sejak dini di rumah dan sekolah akan menjadi fondasi penting bagi generasi muda untuk mengambil keputusan finansial yang lebih bijak di masa depan,” tegasnya.

Program JA SparktheDream tidak hanya berhenti pada penyampaian materi, melainkan mendorong adanya dialog antara anak dan orang tua di rumah. Dengan melibatkan keluarga, siswa diajak untuk melihat bagaimana keputusan keuangan diambil dalam konteks kehidupan nyata, mulai dari skala yang paling kecil. Pendekatan ini bertujuan untuk menghilangkan jarak antara teori di sekolah dengan realitas finansial yang ada di masyarakat, sehingga siswa lebih siap saat harus berhadapan langsung dengan berbagai instrumen keuangan digital nantinya.

Target Ambisius: Menjangkau Ribuan Siswa di Berbagai Penjuru Kota

Memasuki tahun keempat pelaksanaannya, JA SparktheDream mengusung target yang cukup ambisius. Hingga November 2026, program ini diproyeksikan dapat memberikan dampak positif bagi lebih dari 2.300 siswa sekolah menengah pertama yang tersebar di 12 kota di Indonesia. Skala jangkauan yang luas ini menunjukkan komitmen jangka panjang dalam meningkatkan inklusi dan literasi keuangan secara nasional, terutama pada kelompok usia yang sedang dalam masa transisi menuju kemandirian.

Struktur pembelajaran dalam program ini disusun secara komprehensif melalui empat sesi kelas interaktif. Tidak hanya melibatkan fasilitator dari PJI dan guru di sekolah, para relawan dari FWD Insurance juga turut turun tangan untuk berbagi wawasan industri. Model pembelajaran ini menggabungkan sesi tatap muka, platform digital daring, hingga penugasan praktik di rumah. Melalui metode campuran ini, siswa didorong untuk secara aktif mencatat pengeluaran harian dan melakukan simulasi pengambilan keputusan finansial, sehingga literasi keuangan berubah menjadi sebuah keterampilan hidup yang nyata.

Peningkatan Kapasitas Guru sebagai Pilar Keberlanjutan Pendidikan

Selain berfokus pada siswa, JA SparktheDream juga menempatkan guru sebagai elemen kunci dalam keberlanjutan edukasi keuangan. Direktur Eksekutif PJI, Utami Anita Herawati, menilai bahwa penguatan kapasitas pendidik adalah langkah strategis agar materi literasi keuangan tetap terjaga kualitasnya meski program secara formal telah usai. “Program ini tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga memperkuat kapasitas guru melalui metodologi dan materi yang dapat diadaptasi ke dalam kurikulum sekolah secara berkelanjutan,” jelas Utami.

Dengan membekali para guru dengan metodologi yang tepat, sekolah diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai pengelolaan keuangan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada. Hal ini menciptakan dampak bola salju, di mana edukasi finansial tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kehadiran pihak luar, melainkan sudah menjadi bagian integral dari sistem pendidikan di sekolah masing-masing.

Urgensi Literasi Finansial Pelajar di Tengah Arus Digitalisasi

Kehadiran program seperti JA SparktheDream terasa sangat relevan jika melihat data statistik saat ini. Indeks literasi keuangan di kalangan pelajar dan mahasiswa Indonesia tercatat masih berada pada angka 56,42%. Angka ini menunjukkan masih adanya ruang yang cukup besar untuk perbaikan, terutama mengingat penetrasi dompet digital dan sistem pembayaran modern lainnya yang kini sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari generasi muda.

Tanpa literasi yang kuat, akses layanan keuangan digital yang begitu luas justru bisa menjadi risiko bagi pelajar. Program ini hadir sebagai penyeimbang, memberikan "kompas" bagi siswa agar tidak hanya sekadar menjadi konsumen teknologi keuangan, tetapi juga menjadi pengguna yang bertanggung jawab. Melalui pendekatan kolaboratif lintas pihak, JA SparktheDream memposisikan diri sebagai langkah nyata dalam membangun fondasi literasi keuangan anak Indonesia guna menghadapi tantangan ekonomi di masa depan dengan penuh percaya diri.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index