JAKARTA - Di tengah dinamika industri asuransi dan tingginya risiko pasar, PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga kinerja keuangan.
Strategi tersebut diarahkan untuk mempertahankan stabilitas sekaligus meningkatkan perolehan laba pada 2026. Perusahaan menegaskan bahwa pertumbuhan tidak hanya dikejar dari sisi ekspansi bisnis, tetapi juga melalui penguatan fundamental operasional dan tata kelola agar tetap resilien menghadapi volatilitas pasar keuangan.
Director and Chief Transformation Officer MSIG Life Ken Terada menjelaskan bahwa arah strategi perusahaan pada 2026 difokuskan pada pertumbuhan yang berkualitas. Artinya, ekspansi dilakukan secara selektif dengan menjaga keseimbangan portofolio produk, meningkatkan kualitas layanan, serta memperkuat efektivitas operasional.
"Ditambah, melakukan penguatan tata kelola untuk menjaga performa finansial perusahaan di tengah dinamika risiko pasar yang terus berubah. Perusahaan berfokus pada pencapaian yang terkelola dan berkelanjutan," ucapnya.
Pertumbuhan Berkualitas dan Keseimbangan Portofolio Produk
Strategi utama MSIG Life dalam mendongkrak laba 2026 bertumpu pada konsep pertumbuhan yang berkualitas. Perusahaan berupaya menjaga bauran portofolio produk tetap seimbang agar tidak terlalu bertumpu pada satu lini bisnis tertentu.
Pendekatan ini dinilai penting untuk mengurangi risiko konsentrasi sekaligus memastikan stabilitas pendapatan.
Keseimbangan portofolio menjadi krusial di tengah perubahan perilaku nasabah dan dinamika pasar asuransi yang semakin kompetitif. MSIG Life tidak hanya mengejar volume premi, tetapi juga memperhatikan kualitas bisnis yang dihasilkan.
Produk-produk yang dipasarkan diarahkan agar memiliki profil risiko yang terukur dan memberikan kontribusi positif terhadap profitabilitas jangka panjang.
Selain itu, peningkatan kualitas operasional juga menjadi bagian penting dari strategi ini. Efisiensi proses bisnis, optimalisasi sistem, serta transformasi internal dilakukan agar struktur biaya tetap terkendali. Dengan demikian, perusahaan memiliki ruang yang lebih besar untuk menjaga margin laba meskipun menghadapi tekanan eksternal.
Pengelolaan Investasi di Tengah Risiko Pasar
MSIG Life juga menyoroti dampak risiko investasi yang masih tinggi terhadap kinerja laba. Ken Terada mengakui bahwa kondisi pasar yang dinamis menjadi perhatian serius bagi perusahaan.
Fluktuasi di pasar saham dan obligasi, baik akibat sentimen global maupun domestik, dapat memengaruhi hasil investasi yang menjadi salah satu penopang kinerja keuangan perusahaan asuransi.
Meski demikian, perusahaan menegaskan bahwa pengelolaan investasi dilakukan secara hati-hati dan terdiversifikasi. Pendekatan ini bertujuan untuk meminimalkan dampak volatilitas pasar terhadap portofolio investasi perusahaan.
Meskipun hasil investasi memiliki kontribusi penting, Ken menekankan bahwa laba perusahaan tidak hanya bergantung pada faktor tersebut. Kinerja laba juga ditopang oleh berbagai faktor fundamental operasional, termasuk pengelolaan premi, efisiensi biaya, serta disiplin underwriting.
Dengan fondasi operasional yang kuat, perusahaan berharap mampu menjaga stabilitas kinerja meskipun pasar keuangan mengalami fluktuasi. Diversifikasi portofolio investasi serta penguatan manajemen risiko menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara potensi imbal hasil dan pengendalian risiko.
Tantangan Volatilitas dan Tekanan Klaim
Memasuki 2026, MSIG Life memetakan sejumlah tantangan yang berpotensi memengaruhi kinerja laba. Ken menyebut volatilitas pasar keuangan sebagai salah satu tantangan utama.
Pergerakan indeks saham dan obligasi, perkembangan ekonomi global, serta dinamika domestik menjadi faktor yang perlu dicermati secara berkelanjutan.
Selain itu, perubahan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s turut menjadi perhatian, meskipun peringkat tetap berada pada level investment grade. Perubahan outlook tersebut dapat memengaruhi sentimen pasar dan persepsi risiko terhadap instrumen keuangan domestik.
Di sisi lain, tren klaim juga menjadi tantangan tersendiri. Tekanan inflasi medis, yang berdampak pada kenaikan biaya layanan kesehatan, berpotensi meningkatkan beban klaim perusahaan asuransi jiwa. Kondisi ini menuntut perusahaan untuk lebih disiplin dalam pengelolaan risiko serta penetapan premi yang sesuai.
Dinamika persaingan industri turut memperketat ruang gerak perusahaan. Kompetisi harga, inovasi produk, serta perubahan preferensi nasabah menjadi faktor yang harus direspons dengan strategi yang tepat agar tetap kompetitif tanpa mengorbankan profitabilitas.
"Perusahaan merespons kondisi tersebut dengan memperkuat manajemen risiko dan disiplin bisnis agar kinerja tetap terjaga dan resilien," kata Ken.
Kinerja Keuangan 2025 sebagai Modal 2026
Di tengah berbagai tantangan tersebut, kinerja keuangan MSIG Life pada 2025 menjadi fondasi penting untuk menghadapi 2026. Berdasarkan laporan keuangan di situs resmi perusahaan, MSIG Life mencatat laba setelah pajak sebesar Rp 135,47 miliar per akhir 2025.
Dari sisi pendapatan, premi yang berhasil dihimpun mencapai Rp 4,45 triliun. Sementara itu, hasil investasi tercatat sebesar Rp 1,01 triliun. Angka-angka ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki basis pendapatan yang cukup kuat untuk menopang ekspansi dan strategi pertumbuhan ke depan.
Capaian tersebut mencerminkan kombinasi antara kinerja operasional dan pengelolaan investasi yang relatif stabil. Dengan struktur pendapatan yang terdiversifikasi, MSIG Life memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian strategi apabila kondisi pasar berubah.
Ke depan, perusahaan akan terus mengedepankan tata kelola yang baik, disiplin bisnis, serta penguatan manajemen risiko sebagai pilar utama. Strategi ini diharapkan mampu menjaga konsistensi pertumbuhan laba secara berkelanjutan, bukan hanya dalam jangka pendek tetapi juga dalam horizon jangka panjang.
Dengan fokus pada pertumbuhan berkualitas, keseimbangan portofolio, serta ketahanan terhadap volatilitas pasar, MSIG Life menargetkan 2026 sebagai tahun konsolidasi yang produktif.
Perusahaan berupaya memastikan bahwa setiap langkah ekspansi tetap berada dalam koridor kehati-hatian, sehingga kinerja laba dapat terus meningkat secara terukur dan berkelanjutan.