Kemendag

Kemendag Catat Harga Bawang Putih Nasional Mulai Menurun Maret 2026

Kemendag Catat Harga Bawang Putih Nasional Mulai Menurun Maret 2026
Kemendag Catat Harga Bawang Putih Nasional Mulai Menurun Maret 2026

JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat perkembangan harga bawang putih di tingkat nasional mulai menunjukkan tren penurunan pada Maret 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. 

Meskipun demikian, beberapa wilayah masih mencatat harga di atas Harga Acuan Penjualan (HAP).

Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Nawandaru Dwi Putra, menyatakan bahwa harga rata-rata bawang putih grade A (kating) di nasional berada di kisaran Rp39.091 per kilogram, sementara HAP ditetapkan Rp38.000 per kilogram. 

“Untuk non-Maluku dan Papua, ini sebenarnya tercatat mengalami penurunan dan ini masih di bawah harga acuan yang ditetapkan sebesar Rp38.000 per kilogram,” kata Nawandaru.

Perbedaan harga ini menunjukkan bahwa penurunan harga belum merata secara nasional, dan wilayah timur Indonesia, terutama Maluku dan Papua, masih menghadapi harga tinggi yang perlu perhatian lebih lanjut.

Kondisi Harga di Wilayah Maluku dan Papua

Di sisi lain, harga bawang putih di Maluku dan Papua masih tercatat cukup tinggi. Untuk bawang putih grade A, harga mencapai Rp63.119 per kilogram, atau 50-57 persen di atas HAP. Hal serupa juga terjadi pada bawang putih grade B (honan), di mana harga mencapai Rp61.992 per kilogram, sekitar 54 persen di atas HAP.

Nawandaru menekankan bahwa ketimpangan harga ini sebagian besar disebabkan oleh kendala distribusi dari sentra produksi utama ke wilayah kepulauan dan terpencil. “Distribusi masih menjadi tantangan utama, terutama untuk wilayah timur dan daerah kepulauan,” ujarnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun harga nasional menurun, akses masyarakat di daerah timur terhadap bawang putih dengan harga wajar masih terbatas, sehingga intervensi distribusi menjadi kunci untuk menstabilkan harga.

Upaya Kemendag Dorong Realisasi Impor

Kemendag terus mendorong para importir untuk segera merealisasikan Persetujuan Impor (PI) bawang putih. Pada pekan sebelumnya, realisasi impor tercatat 31 ribu ton, melampaui target awal 30 ribu ton, sementara pekan ini meningkat menjadi 40.281 ton.

“Pihak kami bersama Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri terus melakukan evaluasi dan monitoring terhadap para importir agar segera merealisasikan PI, khususnya menjelang Lebaran 2026,” ungkap Nawandaru.

Langkah ini diharapkan dapat menambah pasokan di pasar, menekan harga, serta membantu stabilitas inflasi. Realisasi impor yang tepat waktu menjadi salah satu strategi utama pemerintah untuk menyeimbangkan harga bawang putih di seluruh wilayah Indonesia.

 Optimalisasi Produksi Dalam Negeri

Selain mendorong impor, Kemendag juga menekankan optimalisasi sentra produksi dalam negeri, terutama di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan wilayah Sembalun. Sentra ini diharapkan mampu menambah pasokan bawang putih untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Nawandaru menyarankan adanya fasilitasi distribusi berupa subsidi ongkos angkut agar pasokan bawang putih dapat menjangkau wilayah terpencil seperti Maluku dan Papua. Langkah ini dianggap penting agar harga di wilayah timur dapat menyesuaikan dengan HAP, dan masyarakat memperoleh akses harga yang lebih terjangkau.

Dengan strategi kombinasi impor dan pemanfaatan produksi lokal, pemerintah menargetkan agar harga bawang putih secara nasional bisa stabil dan sejalan dengan HAP, sekaligus mengurangi disparitas harga di berbagai daerah.

Proyeksi Harga Bawang Putih Jelang Lebaran

Menjelang Lebaran 2026, Kemendag memperkirakan permintaan bawang putih akan meningkat signifikan. Oleh karena itu, penekanan pada distribusi yang efisien dan realisasi impor tepat waktu menjadi kunci untuk menjaga stabilitas harga.

“Dengan penurunan harga nasional yang mulai terlihat dan upaya distribusi yang difokuskan ke wilayah terpencil, kami optimistis harga bawang putih dapat stabil menjelang Lebaran,” ujar Nawandaru.

Selain itu, pemerintah terus memantau pergerakan harga dan melakukan koordinasi dengan pihak importir dan distributor lokal. Sinergi antara impor, produksi lokal, dan distribusi diharapkan mampu menjaga ketersediaan pasokan serta menekan harga bawang putih agar tetap sesuai HAP di seluruh Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index