BCA

Anomali Strategi BCA: Menambah Ribuan ATM di Tengah Tren Penurunan Nasional

Anomali Strategi BCA: Menambah Ribuan ATM di Tengah Tren Penurunan Nasional
Anomali Strategi BCA: Menambah Ribuan ATM di Tengah Tren Penurunan Nasional

JAKARTA - Di saat industri perbankan nasional mulai meninggalkan infrastruktur fisik demi efisiensi digital, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) justru mengambil langkah yang berlawanan. Laporan pengawasan perbankan terbaru menunjukkan fenomena menarik: ribuan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) mulai menghilang dari berbagai sudut kota di Indonesia. Namun, bank swasta terbesar di tanah air ini justru memperluas jaringannya, mempertegas keyakinan bahwa kehadiran fisik masih menjadi jangkar utama dalam melayani nasabah di tengah gempuran digitalisasi.

Laporan Surveilans Perbankan Indonesia yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa jumlah ATM telah berkurang hingga ribuan unit setiap tahunnya. Namun, Bank Central Asia (BCA) justru meningkatkan jumlah ATM-nya secara signifikan. Langkah ini dipandang sebagai strategi defensif sekaligus ekspansif untuk mengamankan pangsa pasar nasabah yang masih mengandalkan transaksi tunai dan layanan hibrida.

Komitmen Pelayanan bagi Nasabah dengan Mobilitas Tinggi

Alasan di balik penambahan infrastruktur ini bukan tanpa dasar riset konsumen yang kuat. EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyatakan bahwa ATM, terutama untuk menyetor dan menarik uang tunai, masih diperlukan oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi.

“BCA berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan nasabah yang beragam dengan berinvestasi pada penambahan ATM,” tutur Hera dalam jawaban tertulis kepada Tempo pada Rabu, 28 Januari 2026. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun layanan mobile banking tumbuh pesat, kebutuhan akan ketersediaan uang tunai tetap menjadi elemen vital dalam ekosistem ekonomi masyarakat Indonesia.

Data Penurunan ATM Nasional vs Pertumbuhan Infrastruktur BCA

Kontras antara data nasional dan data internal BCA terlihat sangat tajam dalam periode setahun terakhir. Menurut survei OJK, jumlah terminal perbankan elektronik (ATM, CDM, dan CRM) menurun dari 91.173 unit pada kuartal ketiga tahun 2024 menjadi 89.774 unit pada kuartal ketiga tahun 2025. Terminal perbankan elektronik adalah mesin otomatis yang memungkinkan nasabah melakukan transaksi keuangan tanpa harus melalui bank secara langsung.

Di tengah penurunan ini, BCA telah memperluas infrastruktur mesinnya. Hera mengungkapkan bahwa hingga Desember 2025, BCA memiliki 20.163 ATM yang tersebar di seluruh Indonesia. Angka ini menandai peningkatan sebanyak 620 unit dibandingkan tahun sebelumnya, di mana jumlahnya tercatat sebesar 19.543 unit. Pertumbuhan ini seolah menentang arus efisiensi yang tengah dilakukan oleh banyak bank lain di Indonesia.

Dominasi Mesin CRM untuk Kemudahan Transaksi Mandiri

Transformasi ATM yang dilakukan BCA tidak hanya sekadar penambahan jumlah, tetapi juga peningkatan kualitas mesin. Mayoritas ATM BCA saat ini adalah cash recycling machines (CRM), yang dapat digunakan untuk menarik dan menyetor uang tunai, transfer dana, melakukan pembayaran, dan banyak lagi.

Menurut Hera, ATM, terutama untuk setor dan tarik tunai, masih tetap diperlukan oleh masyarakat, khususnya mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas untuk mendatangi kantor cabang. Dengan adanya mesin CRM, nasabah dapat melakukan fungsi kasir secara mandiri selama 24 jam, yang pada akhirnya meningkatkan efisiensi waktu baik bagi nasabah maupun pihak perbankan itu sendiri.

Penguatan Ekosistem Hybrid Banking Jangka Panjang

Langkah BCA menambah jumlah ATM juga merupakan bagian dari investasi jangka panjang perusahaan dalam membangun ekosistem perbankan yang tangguh. Strategi ini bertujuan memperkuat ekosistem perbankan hibrida dengan meningkatkan saluran mobile dan internet banking, titik penjualan (point of sale), kantor cabang, dan ATM, serta pusat layanan kontak (contact center).

Kepercayaan diri BCA terhadap masa depan mesin fisik ini tetap tinggi. "Kami memproyeksikan penggunaan ATM akan terus tumbuh seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan," tegas Hera. BCA percaya bahwa pertumbuhan ekonomi akan selalu diikuti oleh peningkatan volume transaksi, baik secara digital maupun fisik.

Prediksi OJK dan Dinamika Keputusan Bisnis Perbankan

Di sisi lain, regulator melihat tren penurunan jumlah mesin otomatis secara nasional sebagai konsekuensi logis dari kemajuan zaman. Sebelumnya, Direktur Eksekutif Pengawasan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan, Dian Ediana Rae, memprediksi tren penurunan jumlah ATM akan terus berlanjut. Hal ini selaras dengan adopsi teknologi, efisiensi biaya perbankan, dan perubahan kebutuhan masyarakat yang beralih ke transaksi nontunai.

Meski demikian, Dian menyatakan bahwa penurunan tersebut sangat bergantung pada keputusan strategis masing-masing bank. "Tren penurunan jumlah ATM pada dasarnya merupakan langkah yang diambil berdasarkan keputusan bisnis masing-masing bank," sebutnya dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Kamis, 29 Januari 2026. Perbedaan jalan yang diambil BCA dibandingkan mayoritas industri perbankan lainnya membuktikan bahwa strategi hibrida tetap memiliki tempat di hati nasabah Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index